SEPAK BOLA DIURUS, PENDIDIKAN MAHAL, AKSES KESEHATAN SULIT: HERMAN DERU TAK BECUS.
SEPAK BOLA DIURUS, PENDIDIKAN MAHAL, AKSES KESEHATAN SULIT: HERMAN DERU TAK BECUS.
SEPAK BOLA DIURUS, PENDIDIKAN MAHAL, AKSES KESEHATAN SULIT: HERMAN DERU TAK BECUS.
Oleh : ALI PUDI
Dalam teori pembangunan daerah, seorang gubernur seharusnya menempatkan kebutuhan rakyat sebagai prioritas utama: pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan ekonomi. Namun di Sumatera Selatan, kepemimpinan Herman Deru justru menunjukkan arah berbeda. Sorotan publik kian menguat: sepak bola diurus, tetapi sektor vital seperti pendidikan dan kesehatan terbengkalai.
Fenomena ini menunjukkan betapa pemimpin daerah gagal membaca prioritas, lebih mengedepankan pencitraan dibandingkan pelayanan publik. Tidak heran, banyak kalangan menilai Herman Deru tak becus mengurus Sumsel.
Tidak ada yang salah dengan mendukung olahraga, termasuk sepak bola. Klub sepak bola bisa menjadi ikon kebanggaan masyarakat, sekaligus membangun semangat anak muda. Namun masalah muncul ketika perhatian pemerintah daerah terlalu besar dicurahkan ke sektor ini, seolah menjadi panggung utama pencitraan politik.
Bukan rahasia lagi, kehadiran Sumsel United dan berbagai event olahraga kerap dijadikan alat simbolis untuk menunjukkan kepedulian pemimpin terhadap rakyat. Padahal, pembangunan olahraga seharusnya berjalan seimbang, tidak boleh menyingkirkan kewajiban utama: menjamin rakyat hidup layak, sehat, dan cerdas.
Realita pendidikan di Sumatera Selatan jauh dari ideal. Di kota besar seperti Palembang, biaya sekolah masih terasa berat bagi banyak keluarga. Di pelosok, persoalannya lebih serius: kekurangan guru, fasilitas minim, dan akses sulit.
Sementara itu, program �pendidikan gratis� yang kerap dijadikan bahan kampanye ternyata tidak benar-benar gratis. Orang tua tetap harus mengeluarkan biaya untuk seragam, buku, hingga sumbangan-sumbangan yang memberatkan. Alhasil, banyak anak-anak dari keluarga kurang mampu berhenti di bangku SMP atau SMA karena orang tua tidak sanggup menanggung biaya.
Pertanyaan besar muncul: apakah gubernur benar-benar memahami kesulitan rakyat di lapangan?
Sektor kesehatan pun tak jauh berbeda. Puskesmas di daerah masih kekurangan tenaga medis dan fasilitas. Banyak pasien yang harus menunggu lama atau bahkan dirujuk ke rumah sakit besar di Palembang karena keterbatasan alat.
Jaminan kesehatan daerah juga belum sepenuhnya menutup kebutuhan masyarakat miskin. Ada yang masih harus mengeluarkan biaya sendiri, padahal seharusnya negara hadir untuk melindungi rakyat. Kondisi ini diperparah dengan jarak tempuh yang jauh di daerah pedesaan, membuat rakyat kecil seolah dipaksa memilih antara sakit tanpa berobat atau berutang demi biaya pengobatan.
Ironisnya, pemerintah daerah lebih sering tampil di panggung olahraga dan seremoni, alih-alih turun langsung menuntaskan masalah kesehatan rakyat.
Dari dua sektor vital ini�pendidikan dan kesehatan�sudah cukup jelas terlihat bahwa Herman Deru gagal membaca prioritas pembangunan. Rakyat Sumsel tidak hanya butuh hiburan lewat sepak bola, tetapi juga akses pendidikan murah dan layanan kesehatan berkualitas.
Pemimpin sejati bukan hanya pandai mengatur agenda ceremoni, melainkan hadir memberikan solusi nyata bagi kebutuhan dasar masyarakat. Jika pendidikan tetap mahal dan kesehatan sulit diakses, pembangunan yang dibanggakan hanyalah fatamorgana.
Kini saatnya rakyat Sumsel melakukan evaluasi. Apakah kepemimpinan yang lebih sibuk dengan sepak bola dan pencitraan masih layak dipertahankan? Apakah Sumsel bisa maju jika pendidikan masih menjadi beban dan kesehatan masih menjadi kemewahan?
Herman Deru harus sadar: legitimasi seorang pemimpin tidak dibangun dari stadion dan sorak-sorai penonton, tetapi dari doa rakyat kecil yang merasa hidupnya lebih baik karena kebijakan yang adil dan berpihak. Jika hal mendasar ini tidak mampu diwujudkan, maka wajar bila rakyat menilai: Herman Deru tak becus memimpin Sumatera Selatan.
Palembang, 8 September 2025
Penulis
ALI PUDI
Aktivis 98, Jurnalis, Analis Ekonomi & Politik
Komentar via Facebook